Mitos atau Fakta: Gonta-ganti Jenis BBM Bikin Motor Rusak

Bukan hanya pacar yang bisa gonta-ganti, nyatanya pengguna sepeda motor pun pasti pernah melakukan gonta-ganti jenis bahan bakar minyak (BBM). Misal, setelah pakai Research Octane Number/RON tinggi, beberapa hari kemudian menggunakan oktan yang lebih rendah.

Banyak kabar beredar bahwa perilaku seperti itu bisa membuat mesin motor menjadi cepat rusak. Lantas, apakah benar seperti itu atau hanya mitos saja? Mari simak artikel ini untuk jawabannya.

  1. Pakai yang sesuai dengan standar masing-masing motor

Pakailan BBM yang sesuai dengan spesifikasi motor yang dipakai. Sebaiknya hindari gonta-ganti jenis BBM, terutama pada motor besar alias moge. Sebab, hal tersebut bisa membuat adanya perbedaan tekanan ke mesin. Bahkan dapat menimbulkan terjadinya ‘knocking’ yang tinggi dan mengakibatkan mesin kurang bekerja dengan maksimal.

Akibatnya, bahan bakar menjadi lebih boros lagi. Jadi sebaiknya dihindari saja.

Di pasaran ada sejumlah jenis bahan bakar, yakni Premium (Nilai Oktan/RON 88), Pertalite (Nilai Oktan 90), Pertamax (Nilai Oktan 92), Pertamax Plus (Nilai Oktan 95) dsb. Dari masing-masing bahan bakar tersebut pemakaiannya disesuaikan dengan kompresi yang ada pada setiap motor.

Premium sebaiknya digunakan pada motor yang berkompresi 7 – 9: 1, Pertalite pada motor yang berkompresi 9 -10: 1, Pertamax untuk kompresi 10 -11: 1 sedangkan Pertamax Plus berkompresi 11 – 12: 1.

  1. Mengacaukan ECU

Motr baru saat ini sudah mengadaptasi teknologi Electronic Control Unit (ECU). Salah satu fungsinya menghitung semburan bahan bakar dan sistem pengapian di ruang bakar. Gara-gara mencampur bahan bakar, bisa menyebabkan ECU mengalami kesulitan dalam melakukan perhitungan.

  1. Mesin jadi lebih panas

Tahukah kamu, efek lain dari gonta-ganti bahan bakar adalah mesin jadi lebih panas dan pada kasus yang ekstrim bisa membuat piston rusak serta berlubang.

Bahkan, pada mesin modern, efek knocking karena bahan bakar dengan oktan rendah memang bisa diatasi dengan memajukan waktu pengapiannya. Tapi cara ini mengakibatkan tenaga tidak keluar optimal dan konsekuensinya adalah konsumsi bahan bakar jadi lebih boros.

  1. Mesin jadi berkerak

Tiap BBM mempunyai komposisi kimiawi yang berebeda, maka jangan terlalu sering berganti BBM, sebab dikhawatirkan menimbulkan residu atau kerak di dalam ruang bakar. Akibatnya, dengan adanya kerak performa mesin jadi kurang baik. Adanya kerak membuat kompresi turun akibat kerak tersebut mengganjal lubang valve yang seharusnya tertutup rapat.

  1. Menghilangkan zat di BBM dengan RON tinggi

Mitosnya, jika mencampur Premium yang bernilai oktan (RON) 88 dengan Pertamax (RON 92) atau Pertamax Plus (RON 95) maka akan didapatkan bahan bakar dengan nilai oktan yang lebih tinggi daripada premium tanpa menjadi terlalu boros.

Namun, sebaiknya kamu tahu Pertamax memiliki 3 zat aditif tambahan yang bermanfaat pada optimalisasi pembakaran pada mesin, antara lain:

Detergency, yakni zat aditif yang berfungsi untuk membersihkan logam dari kotoran. Mulai dari membersihkan tangki bahan bakar, karburator/saluran injektor, klep intake, kepala silinder, dan ruang bakar.

Corrotion Inhibitor, merupakan salah satu elemen penghambat korosi (karat) pada bagian-bagian saluran bahan bakar yang terbuat dari besi.

Demulsifier, yang berfungsi sebagai pencegah terjadinya pengkristalan air dalam bahan bakar. Kristal air kerap terjadi pada bahan bakar yang hanya memiliki kadar oktan 88, yang membuat pembakaran menjadi tak sempurna.

Nah, mencampurkan Premium dengan Pertamax atau Pertamax Plus memang bisa meningkatkan nilai RON tetapi fungsi tiga zat tambahan itu akan hilang.

Jadi, lebih baik jangan, ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *